Mitos dan Fakta Kehidupan di Amerika Serikat

Mitos Sekolah Gratis
Banyak orang berpendapat jika sudah menjadi resident, yaitu penduduk AS yang memegang Green Card ataupun Warga Negara AS, maka ia akan bisa menikmati sekolah hingga tingkat menengah atas secara gratis.

Fakta
Untuk sekolah swasta, sebagaimana halnya di Indonesia, penduduk AS tetap bayar. Untuk sekolah negeri yang dikelolah pemerintah, memang muridnya tidak membayar uang sekolah secara langsung. Pertanyaannya, siapa yang bayar? Yang bayar adalah semua penduduk resmi AS. Pembayaran ini dilakukan melalui pajak yang disetor oleh mereka ke Internal Revenue Service atau IRS (Departemen Perpajakan AS) sampai 35% dari pendapatan secara berkala setiap tahun (smbiz.com), sekitar 8% dari pajak penjualan untuk negara bagian Kalifornia, kurang lebih 1% dari pajak bangunan dan untuk kota tertentu ditambah assessment fee sekitar $2.500 per tahun bagi pemilik rumah.

Jika pendapatan seseorang $100.000 per tahun yang termasuk cukup tinggi, dengan harga rumah yang ia miliki sekitar $600.000 (harga yang termasuk paling murah di San Francisco), maka pajak yang dibayar ke pemerintah di luar pajak penjualan adalah sebesar $36.500 (28% dari $100.000 + 1% dari $600.000 + $2.500 essessment fee). Di dalam nilai $36.000 itu, sebagiannya digunakan oleh pemerintah untuk membiayai sekolah. Jadi mitos sekolah gratis di AS adalah tidak benar.

Perlu diingat bahwa pada umumnya orang Amerika lebih takut IRS dari pada polisi, karena jika ketahuan menipu IRS, maka denda dan hukuman yang dikenakan biasanya dalam jumlah yang besar dan berat. Oleh karena itu, jarang ada orang yang berani menggelapkan pajak dengan cara seperti yang dilakukan di Indonesia.

Mitos Mendapatkan Uang Cuma-Cuma dari Social Security
Sebagian orang berpendapat bahwa dengan uang Social Security (SS), penduduk AS tidak perlu kwatir mengenai hari tua dan tidak kerjapun akan ditanggung oleh pemerintah.

Fakta
Perlu diketahui bahwa dana SS adalah semacam dana pensiun dari pemerintah yang disetor tiap bulan oleh karyawan dan pengusaha ke pemerintah dengan total 12,4 persen dari pendapatan karyawan sampai $90.000 per tahun per kepala. Hal ini akan lebih bisa dimengerti jika dipergunakan contoh hitungan dari kalkulator on line SS tentang benefit yang diperoleh dari SS setelah pensiun pada usia di atas 65 tahun. Menurut perhitunganku, jika seseorang yang lahir pada tahun 1950 dan mulai bekerja pada usia 18 tahun dengan pendapatan $5.000 pertahun dan diakhiri dengan pendapatan $65.000 per tahun ketika ia menginjak usia 65, maka benefit yang ia terima setelah ia pensiun adalah berkisar antara $1.500 sampai $2.000 per bulan. Jumlah ini akan menjadi lebih kecil bagi imigran yang baru datang dan mulai bekerja pada usia yang sudah pertengahan.

Jumlah uang yang sedemikian tidaklah memadai untuk kehidupan di kota besar dan di negara bagian tertentu yang living cost-nya tinggi. Sebagai contoh, untuk hidup dengan layak dan menyewa apartement satu kamar di San Francisco (bukan rumah), biaya kehidupan minimum dibutuhkan sekitar $2.500 per bulan. Jelas dengan uang SS seperti itu, sangatlah sulit untuk bisa hidup berkecukupan di San Francisco atau kota besar di AS lainnya. Seorang pensiunan tidak akan menikmati kehidupan yang “nyaman.”

Penting untuk diketahui bahwa dana untuk SS di bawah pemerintahan George W. Bush terancam bangkrut. Kondisi seperti ini lebih tidak menjanjikan lagi untuk mengandalkan uang pensiun dari SS.

Hal lain, ada yang beranggapan bahwa tidak kerjapun tidak menjadi masalah karena kita akan mendapat uang dari SS. Kenyataannya uang yang diterima bukan dari SS tapi dari Unemployment Insurance Fund yang jumlah rata-rata diterima oleh seorang penganguran berkisar $280 per minggu. Uang yang berasal dari kontribusi karyawan sebesar 1% dan pengusaha sebesar 0,5% dari gaji karyawan ini dikelolah oleh US Department of Labor dan Employment Development Department (EDD).

Uang yang rata-rata berjumlah $1.120 per bulan itu ($280 x 4 minggu) hanya diberikan pada karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja atau lay off karena restrukturisasi atau rasionalisasi perusahaan. Jika karyawan berhenti dengan sukarela atau diberhentikan karena melanggar hukum dan tidak produktif, maka karyawan tersebut tidak akan mendapatkan benefit ini. Selain itu, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan uang ini, seperti melaporkan kegiatan mencari kerja, harus mengikuti pelatihan kerja, selama masa bantuan itu, orang tersebut tidak boleh bekerja. Dengan persyaratan yang ketat dan uang yang tidak mencukupi kehidupan minim itu, pertanyaanya: apakah kita mau hidup dengan kondisi seperti itu dan apakah bisa? Kenyataannya sangat sulit.

Mitos Free Sex
Orang sering melihat bahwa kehidupan di AS penuh diliputi dengan kebebasan sex dan begonta-ganti pasangan atau sex secara beramai-ramai. Bahkan para gay dan lesbian-pun bertebaran di mana-mana. Mitos ini diperkuat dengan promosi Las Vegas, atau juga dikenal dengan Sin City yang mengatakan, “What happens in Vegas, stays in Vegas”. Promosi ini memberikan kesan mesum akan kota Las Vegas dan Amerika. Hollywood-pun tidak ketinggalan dalam menciptakan mitos ini dengan film biru dan berbau sex mereka, seperti Basic Instinct.

Fakta
Pada tingkat tertentu mitos ini memang ada benarnya, seperti yang ditunjukkan pada kelompok tertentu, antara lain kelompok eksklusif sex swinger yang pelakunya adalah pasangan sudah menikah. Mereka ini mencari kepuasan sexual melalui cara tukar pasangan. Kelompok yang lain adalah kelompok religius Children of God yang terkenal dengan metode flirty fishing, yaitu mengungkapkan cinta kasih dari seorang wanita kepada pria dengan cara melakukan hubungan sex. Tujuan lainnya adalah membujuk orang supaya mau menjadi pengikut Children of God dan memberikan keuntungan pada kelompok ini. Di samping itu juga ada event-event yang mempertontonkan jenis kelamin pada tempat tertentu seperti Gay Parade atau Pride Parade dan Baker Beach (pantai untuk orang telanjang) di San Francisco.

Sekarang mari kita lihat sebenarnya seperti apa hidup di dalam mitos free sex di AS. Bahwa kejelekan moral, begitu juga kejekan moral yang berkaitan dengan sex di AS seperti gunung es terbalik. Ia kelihatannya besar di permukaan tetapi mengecil di dasar. Bedanya dengan di Indonesia, moral yang jelek seperti halnya gunung es, kecil di permukaan, tetapi meluas di dasarnya. Artinya, orang Amerika cenderung tidak menutupi kebobrokan moral yang terjadi dan tidak dibungkusi dengan penampilan yang alim. Karena ini jugalah maka banyak dari orang di luar AS yang budayanya berbeda melihat, “Yang kelihatannya aja begitu, bagaimana dengan yang tidak kelihatan?”

Balik ke kasus-kasus yang diungkapakan di atas. Kelompok sex swinger ini memang memilih kehidupan sex untuk bertukar pasangan. Walaupun demikian jangan beranggapan bahwa mayoritas orang Amerika adalah swinger. Jadi jika kita bertemu orang bule Amerika di jalan, jangan berkata, “Hey, I heard that you guys are really free in sexual relations, would you like to do it with me tonight?” Hati-hati, kita bisa dilapori polisi atau dianggap orang gila. Sekali lagi, kelompok ini sangat eksklusif dan jumlahnya sedikit sekali. Karena itu sulit sekali untuk bertemu dengan orang seperti ini.

Praktek-praktek Children of God yang kita tahu telah dilarang oleh pemerintah AS. Kini, kelompok ini tampil dengan simpati di bawah nama The Family. Mereka telah menjadi suatu kelompok religius yang sangat hati-hati dalam kegiatannya. Sekarang kelompok ini mempunyai 8,000 “full-time missionaries” di 100 negara. Jadi adalah suatu hal yang salah kaprah jika pada saat ini ada yang beranggapan bahwa dengan menjadi anggota Children of God, maka mereka akan terlibat dalam kebebasan sex.

Gay/Pride Parade di San Francisco tidak hanya melulu menjadi arena mejeng para homo dan lesbian yang kadang tidak berpakaian (kabarnya memamerkan kelamin seperti ini sekarang sudah dilarang) juga sarat dengan informasi moral, seperti raise awarness tentang kanker payudara dan AIDS. Jadi dalam parade ini, tidak sepenuhnya berbau mesum.

Pantai telanjang? Siapa yang tidak tertarik untuk melihat. Begitu juga aku. Di Baker Beach San Francisco, dekat Golden Gate bridge dikenal dengan banyak orang yang berjemur telanjang. Suatu saat aku ke sana. Apa yang aku temui? Ternyata aku melihat beberapa gelintir orang tua gendut dan tidak menarik yang telanjang (maafkan untuk bahasa yang kasar …).

Bagaimana dengan Las Vegas? Kehidupan di Las Vegas memang sangat berbeda dari kehidupan di kota-kota lain di AS. Di sini penjudian dan penjualan minuman dilegalkan. Di kota inipula kita bisa melihat tarian strip tease (tari telanjang) di bar besar dan kecil. Hampir di setiap hotel besar juga dipertunjukkan life show yang terdiri dari para show girls yang cantik jelita dan tidak mengenakan pakaian atas atau topless, seperti pertunjukan yang pernah aku saksikan, Splash di Riviera hotel. Pertunjukan serupa ini dikemas sedemikan rupa sehingga lebih menunjukkan keartistikannya dari pada kefulgaran sexual.

Walaupun Las Vegas memberi kesan mesum, tetapi prostitute atau pelacuran tidak diperbolehkan. Dalam hal ini, pemerintahan AS sangat membedakan antara prostitute dan fantasi. Strip tease, show girls, film biru dianggap sebagai fantasi yang hanya terjadi di benak setiap orang. Tatapi tindakan prostitute akan mendapat ganjaran yang berat, baik terhadap pemakai jasa ataupun penjualnya. Hukuman antara lain adalah tahanan penjara sampai 6 tahun.

Kalimat “What happens in Vegas, stays in Vegas” cenderung dijadikan sebagai alat promosi untuk mendatangkan pangunjung dari luar Las Vegas dan dari manca negara. Kenyataannya, memang berjuta-juta orang terpancing untuk datang ke Las Vegas setiap tahu.

Secara hukum, pengaturan kehidupan sex di Amerika sangat jelas dan ketat. Misalnya, hubungan sexual antara guru atau karyawan sekolah dengan murid tidak diperbolehkan. Seorang dewasa tidak boleh berhubungan sex dengan anak di bawah 18 tahun. Jika hal ini terjadi maka hukumannya sangatlah berat, bisa mencapai hukuman 30 tahun penjara. Lihat kasus-kasus seperti ini. Hukum juga tidak mengijinkan untuk berpoligami, suami mempunyai lebih dari satu isteri dalam waktu yang bersamaan.

Berkaitan dengan penjualan barang untuk orang dewasa seperti majalah Play Boy yang dilarang di Indonesia dan karcis nonton pertunjukan yang R-rated, hukumnya sangat jelas. Bersiap-siaplah untuk menunjukkan ID (Identification Card) yang menjelaskan bahwa anda berusia 18 tahun ke atas kepada penjualnya. Jika terbukti bahwa penjual tidak memenuhi persyratan hukum ini, maka mereka akan dikenakan hukuman atau denda.

Dari kalangan orang Indonesia yang sudah menetap di AS, terutama wanita atau isteri ada yang berpendapat bahwa para suami menjadi lebih setia dibandingkan ketika ada di Indonesia. Bagaimana pendapat anda?

Mitos Individualistik dan Kapitalistik
Orang Amerika sangat individualistik dan kapitalistik. Pengertian umum yang ditangkap dari kata individualiatik adalah bahwa orang yang termasuk golongan ini mempunyai sifat yang egois, tidak suka saling menolong atau gotong-royong dan tidak bersifat kekeluargaan. Agaknya kata individualistik ini seiring dengan pengertian umum tentang kapitalistik. Dikatakan kapitalistik jika seseorang hanya mengutamakan keuntungan semata dalam hubungannya dengan mahluk sesama atau mahluk lain. Karena sifat yang selalu mencari untung ini, mereka cenderung menjadi oportunis dan melupakan sisi kemanusiaan.

Mitos kehidupan orang Amerika yang individualistik dan kapitalistik di kalangan masyarkat Indonesia sudah tertanam di dalam benakku sejak dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), atau mungkin dari Sekolah Dasar (SD). Di sekolah, ketika guru menerangkan bahwa ideologi Pancasila bukan suatu edeologi yang berkiblat pada komunisme dan juga bukan suatu ideologi yang mengarah pada kapitalisme atau individualisme. Dalam keterangan itu dijelaskan bahwa ideologi kapitalisme/individualisme adalah milik orang barat, termasuk orang Amerika Serikat. Kapitalisme/individualisme dan pengikutnya selalu digambarkan sebagai sesuatu yang jelek.

Fakta
Memang tidak bisa disangkal bahwa untuk batas tertentu, mitos mengenai individualistik dan kapitalistik adalah benar. Hal seperti ini bukan hanya ditemukan di AS, tetapi juga dengan mudah ditemukan di lingkungan di mana saja kita bergaul dan tinggal.

Untuk melihat lebih jelas mengenai fakta yang berkaitan dengan mitos kehidupan yang individualistik dan kapitalistik, marilah kita melihat secara dekat kehidupan kehidupan sehari-hari masyrakat di Amerika Serikat dari sisi di bawah ini.

Pertama, individualistik sering dikaitkan dengan sifat individu Amerika yang egois, tidak suka saling menolong atau gotong-royong, ignorance (tidak peduli) dan tidak punya sifat kekeluargaankan. Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tingkah laku orang Amerika di tempat umum di AS banyak ditemukan persetujuan yang tidak tertulis dan tidak disadari oleh mereka sendiri. Persetujuan tingkah laku ini memperlihatkan kebalikan dari sifat egois. Banyak tingkah laku yang terjadi di tempat umum mencerminkan sifat saling menolong, gotong royong dan malah bersifat kekeluargaan. Contohnya sebagai berikut.

Dalam hal lalu lintas berjalan baik dengan kendaraan ataupun pejalan kaki. Di setiap perempatan yang tidak ada lampu lalu lintas, dengan sendirinya para pengendara mobil akan berhenti dan menunggu giliran. Sulit ditemukan orang yang main menyelonong. Jika macet, tidak ada bunyi klakson nyaring yang memekakan dendang telinga. Hampir tidak ada yang memaksa untuk menggunakan bahu jalan. Jika ada pejalan kaki, pengendara mobil hampir selalu mengalah terhadap mereka.

Sebagai pejalan kaki, sudah menjadi kebiasaan mereka untuk berjalan di sebelah kanan jalan. Begitu juga pada saat menggunakan tangga umum dan escalator, seperti tangga di mall-mall. Jika seseorang menggunakan escalator dan tidak berjalan, maka orang tersebut akan berdiri di pinggir sebelah kanan escalator untuk memberi jalan pada orang lain di belakang melewati mereka melalui sebelah kiri.

Contoh lain adalah masuk keluar pintu. Pada umumnya orang Amerika akan membiarkan orang untuk keluar dulu, baru dia masuk. Jika di belakangnya atau di depannya ditemukan ada orang lain yang hendak keluar masuk, maka pengguna pintu pertama biasanya akan menahan pintu untuk orang tersebut masuk atau keluar. Orang yang masuk dan keluar tersebut dengan otomatis mengucapkan, “Thank you.”

Hal lain yang sering ditemukan di daerah parawisata adalah tawaran dari orang Amerika untuk menjepret pasangan yang sedang liburan. Jangan kwatir, mereka tidak akan membawa lari kamera kita.

Di kota aku tinggal, ada organisasi nonformal yang membantu dan memberi informasi bagi para tetangga yang baru pindah ke kota kami, yaitu New Comers Club. Ada juga Moms Club dan juga tidak ketinggalan organisasi sukarela untuk menjaga keamanan yang disebut Neighborhood Watch dan STAR program. STAR program adalah kerja sukarela khusus bagi pensiunan yang membantu Sjariff untuk menjaga keamanan lingkungan. Aku sendiri mengajarkan Tae Kwon Do dengan cuma-cuma setiap hari Sabtu pagi di taman.

Masih contoh di kota aku tinggal, banyak dari kami di sini yang mengadakan blok parti, yaitu kumpul makan-makan secara berkala dan bergantian di antara tetangga. Sesama tetangga, hanya kami yang orang Asia, yang lainnya adalah bule, saling tukar nomer telepon dan berjanji untuk untuk memberi tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dan perlu bantuan.

Kedua, mitos kapitalistik yang selalu dikaitkan dengan para pemilik modal yang kegiatannya hanya mencari keuntungan semata, tanpa memperhatikan sisi kemanusiaan, ternyata tidak semuanya benar. Hampir di setiap perusahaan menengah dan besar di Amerika pasti mempunyai program sosial. Contoh yang bisa aku ambil dari perusahaan di mana aku pernah bekerja, yaitu Nordstrom dan Wellsfargo. Di Nordstrom, setiap tahun perusahaan selalu menganjurkan agar karyawannya beramal dan perusahaan sendiri dan men-match berapa yang karyawan kasih. Beberapa tahun yang lalu aku pernah ditunnjuk menjadi spoke person untuk kegiatan ini. Di sini aku bermitra dengan perusahaan dan United Way untuk mencari dana guna membantu organisasi non profit di bawah United Way.

Begitu juga ketika aku bekerja di Wellsfargo. Sebagai karyawan dan perusahaan memberikan sumbangan, baik tahunan ataupun bulanan kepada organisai nonprofit lokal.

Perlu diingat juga bahwa proposi tax yang ditarik oleh pemerintah dari karyawan dan pungusaha juga dijadikan dana tunjangan bagi penganguran dan orang tidak mampu.

Masih ingat sumbangan dari Warren Buffett yang legendaris itu? Ia menyumbang US $ 30.000.000.000 pada the Bill and Melinda Gates Foundation dan US $ 6.000.000 pada empat Buffett Foundation. Begitu juga dengan pengusaha besar lainnya, seperti Bill Gates. Mereka menyumbangkan uang dalam jumlah besar pada nonprofit oranization yang bermisi kemanusiaan. Sumbangan mereka bisa dibaca di The Chronicle of Philanthropy.

Adalah hal yang tidak bijaksana jika aku hanya menelan bulat-bulat apa yang diajarkan oleh guru SD dan SMP-ku. Bukan pula suatu perbuatan yang bijaksana untuk menjelekan yang lain dan meninggikan kita sendiri. Tetapi carilah dan kembangkanlah terus kelebihan yang dimiliki oleh bansa kita sendiri.

sumber : overseasthinktankforindonesia.com
This entry was posted in :

2 comments:

  1. Nice post...^^

    BalasHapus
  2. semoga bisa dibaca oleh orang2 yg slama ini salah paham thdp usa...keep post :))

    BalasHapus